Tampilkan postingan dengan label #perguruanpencaksilat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #perguruanpencaksilat. Tampilkan semua postingan

PERISAI DIRI

PERISAI DIRI




SEJARAH SINGKAT KELUARGA SILAT NASIONAL PERISAI DIRI

 
Perisai Diri merupakan salah satu organisasi olahraga beladiri yang menjadi anggota IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), induk organisasi resmi pencak silat di Indonesia di bawah KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia). Perisai Diri menjadi salah satu dari sepuluh perguruan silat yang mendapat predikat Perguruan Historis karena mempunyai peran besar dalam sejarah terbentuk dan berkembangnya IPSI.
Perisai Diri didirikan secara resmi pada tanggal 2 Juli 1955 di Surabaya, Jawa Timur. Pendirinya adalah almarhum RM Soebandiman Dirdjoatmodjo, putra bangsawan Keraton Paku Alam. Sebelum mendirikan Perisai Diri secara resmi, beliau melatih silat di lingkungan Perguruan Taman Siswa atas permintaan pamannya, Ki Hajar Dewantoro.
Teknik silat Perisai Diri mengandung unsur 156 aliran silat dari berbagai daerah di Indonesia ditambah dengan aliran Shaolin (Siauw Liem) dari negeri Tiongkok. Pesilat diajarkan teknik beladiri yang efektif dan efisien, baik tangan kosong maupun dengan senjata. Metode praktis dalam Perisai Diri adalah latihan Serang Hindar yang mana menghasilkan motto “Pandai Silat Tanpa Cedera”.

Pak Dirdjo (panggilan akrab RM Soebandiman Dirdjoatmodjo) lahir di Yogyakarta pada tanggal 8 Januari 1913 di lingkungan Keraton Paku Alam. Beliau adalah putra pertama dari RM Pakoe Soedirdjo, buyut dari Paku Alam II. Sejak berusia 9 tahun beliau telah dapat menguasai ilmu pencak silat yang ada di lingkungan keraton sehingga mendapat kepercayaan untuk melatih teman-temannya di lingkungan daerah Paku Alaman. Di samping pencak silat beliau juga belajar menari di Istana Paku Alam sehingga berteman dengan Wasi dan Bagong Kusudiardjo.
Pak Dirdjo yang pada masa kecilnya dipanggil dengan nama Soebandiman atau Bandiman oleh teman-temannya ini, merasa belum puas dengan ilmu silat yang telah didapatkannya di lingkungan istana Paku Alaman itu. Karena ingin meningkatkan kemampuan ilmu silatnya, setamat HIK (Hollands Inlandsche Kweekschool) atau sekolah menengah pendidikan guru setingkat SMP, beliau meninggalkan Yogyakarta untuk merantau tanpa membawa bekal apapun dengan berjalan kaki. Tempat yang dikunjunginya pertama adalah Jombang, Jawa Timur.
Di sana beliau belajar silat pada KH Hasan Basri, sedangkan pengetahuan agama dan lainnya diperoleh dari Pondok Pesantren Tebuireng. Di samping belajar, beliau juga bekerja di Pabrik Gula Peterongan untuk membiayai keperluan hidupnya. Setelah menjalani gemblengan keras dengan lancar dan dirasa cukup, beliau kembali ke barat. Sampai di Solo beliau belajar silat pada Sayid Sahab. Beliau juga belajar kanuragan pada kakeknya, Ki Jogosurasmo.
Beliau masih belum merasa puas untuk menambah ilmu silatnya. Tujuan berikutnya adalah Semarang, di sini beliau belajar silat pada Soegito dari aliran Setia Saudara. Dilanjutkan dengan mempelajari ilmu kanuragan di Pondok Randu Gunting Semarang. Rasa keingintahuan yang besar pada ilmu beladiri menjadikan Pak Dirdjo masih belum merasa puas dengan apa yang telah beliau miliki. Dari sana beliau menuju Cirebon setelah singgah terlebih dahulu di Kuningan. Di sini beliau belajar lagi ilmu silat dan kanuragan dengan tidak bosan-bosannya selalu menimba ilmu dari berbagai guru. Selain itu beliau juga belajar silat Minangkabau dan silat Aceh.
Tekadnya untuk menggabungkan dan mengolah berbagai ilmu yang dipelajarinya membuat beliau tidak bosan-bosan menimba ilmu. Berpindah guru baginya berarti mempelajari hal yang baru dan menambah ilmu yang dirasakannya kurang. Beliau yakin, bila segala sesuatu dikerjakan dengan baik dan didasari niat yang baik, maka Tuhan akan menuntun untuk mencapai cita-citanya. Beliau pun mulai meramu ilmu silat sendiri. Pak Dirdjo lalu menetap di Parakan, Banyumas, dan membuka perguruan silat dengan nama Eko Kalbu, yang berarti satu hati.
Di tengah kesibukan melatih, beliau bertemu dengan seorang pendekar Tionghoa yang beraliran beladiri Siauw Liem Sie (Shaolinshi), Yap Kie San namanya. Yap Kie San adalah salah seorang cucu murid Louw Djing Tie dari Hoo Tik Tjay. Menurut catatan sejarah, Louw Djing Tie merupakan seorang pendekar legendaris dalam dunia persilatan, baik di Tiongkok maupun di Indonesia, dan salah satu tokoh utama pembawa beladiri kungfu dari Tiongkok ke Indonesia. Dalam dunia persilatan, Louw Djing Tie dijuluki sebagai Si Garuda Emas dari Siauw Liem Pay. Saat ini murid-murid penerus Louw Djing Tie di Indonesia mendirikan perguruan kungfu Garuda Emas.
Pak Dirdjo yang untuk menuntut suatu ilmu tidak memandang usia dan suku bangsa lalu mempelajari ilmu beladiri yang berasal dari biara Siauw Liem (Shaolin) ini dari Yap Kie San selama 14 tahun. Beliau diterima sebagai murid bukan dengan cara biasa tetapi melalui pertarungan persahabatan dengan murid Yap Kie San. Melihat bakat Pak Dirdjo, Yap Kie San tergerak hatinya untuk menerimanya sebagai murid.
Berbagai cobaan dan gemblengan beliau jalani dengan tekun sampai akhirnya berhasil mencapai puncak latihan ilmu silat dari Yap Kie San. Murid Yap Kie San yang sanggup bertahan hanya enam orang, di antaranya ada dua orang yang bukan orang Tionghoa, yaitu Pak Dirdjo dan R Brotosoetarjo yang di kemudian hari mendirikan perguruan silat Bima (Budaya Indonesia Mataram). Dengan bekal yang diperoleh selama merantau dan digabung dengan ilmu beladiri Siauw Liem Sie yang diterima dari Yap Kie San, Pak Dirdjo mulai merumuskan ilmu yang telah dikuasainya itu.
Setelah puas merantau, beliau kembali ke tanah kelahirannya, Yogyakarta. Ki Hajar Dewantoro (Bapak Pendidikan) yang masih Pakde-nya, meminta Pak Dirdjo mengajar silat di lingkungan Perguruan Taman Siswa di Wirogunan. Di tengah kesibukannya mengajar silat di Taman Siswa, Pak Dirdjo mendapatkan pekerjaan sebagai Magazijn Meester di Pabrik Gula Plered.
Pada tahun 1947 di Yogyakarta, Pak Dirdjo diangkat menjadi Pegawai Negeri pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Seksi Pencak Silat, yang dikepalai oleh Mochammad Djoemali. Berdasarkan misi yang diembannya untuk mengembangkan pencak silat, Pak Dirdjo membuka kursus silat melalui dinas untuk umum. Beliau juga diminta untuk mengajar di Himpunan Siswa Budaya, sebuah unit kegiatan mahasiswa UGM (Universitas Gadjah Mada). Murid-muridnya adalah para mahasiswa UGM pada awal-awal berdirinya kampus tersebut. Pak Dirdjo juga membuka kursus silat di kantornya. Beberapa murid Pak Dirdjo saat itu di antaranya adalah Ir Dalmono yang saat ini berada di Rusia, Prof Dr Suyono Hadi (dosen Universitas Padjadjaran Bandung), dan Bambang Mujiono Probokusumo yang di kalangan pencak silat dikenal dengan nama panggilan Mas Wuk.
Tahun 1954 Pak Dirdjo diperbantukan ke Kantor Kebudayaan Provinsi Jawa Timur, Urusan Pencak Silat. Murid-murid beliau di Yogyakarta, baik yang berlatih di UGM maupun di luar UGM, bergabung menjadi satu dalam wadah HPPSI (Himpunan Penggemar Pencak Silat Indonesia) yang diketuai oleh Ir Dalmono.
Tahun 1955 beliau resmi pindah dinas ke Kota Surabaya. Dengan tugas yang sama, yakni mengembangkan dan menyebarluaskan pencak silat sebagai budaya bangsa Indonesia, Pak Dirdjo membuka kursus silat yang diadakan di Kantor Kebudayaan Provinsi Jawa Timur, Surabaya. Dengan dibantu oleh Imam Romelan, beliau mendirikan kursus silat PERISAI DIRI pada tanggal 2 Juli 1955.
Para muridnya di Yogyakarta pun kemudian menyesuaikan diri menamakan himpunan mereka sebagai silat Perisai Diri. Di sisi lain, murid-murid perguruan silat Eko Kalbu yang pernah didirikan oleh Pak Dirdjo masih berhubungan dengan beliau. Mereka tersebar di kawasan Banyumas, Purworejo dan Yogyakarta. Hanya saja perguruan ini kemudian memang tidak berkembang, namun melebur dengan sendirinya ke Perisai Diri, sama seperti HPPSI di Yogyakarta. Satu guru menjadikan peleburan perguruan ini menjadi mudah.
Pengalaman yang diperoleh selama merantau dan ilmu silat Siauw Liem Sie yang dikuasainya kemudian dicurahkannya dalam bentuk teknik yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anatomi tubuh manusia, tanpa ada unsur memperkosa gerak. Semuanya berjalan secara alami dan dapat dibuktikan secara ilmiah. Dengan motto “Pandai Silat Tanpa Cedera”, Perisai Diri diterima oleh berbagai lapisan masyarakat untuk dipelajari sebagai ilmu beladiri.
Pada tahun 1969, Dr Suparjono, SH, MSi (Ketua Dewan Pendekar periode yang lalu) menjadi staf Bidang Musyawarah PB PON VII di Surabaya. Dengan inspirasi dari AD/ART organisasi-organisasi di KONI Pusat yang sudah ada, Suparjono bersama Bambang Mujiono Probokusumo, Totok Sumantoro, Mondo Satrio dan anggota Dewan Pendekar lainnya pada tahun 1970 menyusun AD/ART Perisai Diri dan nama lengkap organisasi Perisai Diri disetujui menjadi Keluarga Silat Nasional Indonesia PERISAI DIRI yang disingkat Kelatnas Indonesia PERISAI DIRI. Dimusyawarahkan juga mengenai pakaian seragam silat Perisai Diri yang baku, yang mana sebelumnya berwarna hitam dirubah menjadi putih dengan atribut tingkatan yang berubah beberapa kali hingga terakhir seperti yang dipakai saat ini. Lambang Perisai Diri juga dibuat dari hasil usulan Suparjono, Both Sudargo dan Bambang Priyokuncoro, yang kemudian disempurnakan dan dilengkapi oleh Pak Dirdjo.
Tanggal 9 Mei 1983, RM Soebandiman Dirdjoatmodjo berpulang menghadap Sang Pencipta. Tanggung jawab untuk melanjutkan teknik dan pelatihan silat Perisai Diri beralih kepada para murid-muridnya yang kini telah menyebar ke seluruh pelosok tanah air dan beberapa negara di Eropa, Amerika dan Australia. Dengan di bawah koordinasi Ir Nanang Soemindarto sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat, saat ini Kelatnas Indonesia Perisai Diri memiliki cabang hampir di setiap provinsi di Indonesia serta memiliki komisariat di 10 negara lain. Untuk menghargai jasanya, pada tahun 1986 pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pendekar Purna Utama bagi RM Soebandiman Dirdjoatmodjo.
Materi Pendidikan dan Latihan Silat Perisai Diri
Tingkatan pesilat Perisai Diri dibagi dalam beberapa tingkatan yang masing-masing ditempuh dalam jangka waktu tertentu. Secara garis besar, tingkatan tersebut dikelompokkan dalam Tingkat Dasar dan Tingkat Keluarga.
Tingkat Dasar           :
Terdiri dari Dasar I (Sabuk Putih), Dasar II (Sabuk Hitam) dan Calon Keluarga (Sabuk Merah). Tingkat Keluarga (Sabuk Merah) terdiri dari beberapa tingkatan yang ditandai dengan warna strip pada badge di dada kiri.
Tahapan pelajaran silat Perisai Diri terdiri dari pengenalan, pengertian, penerapan, pendalaman dan penghayatan.
SENAM TEKNIK KOMBINASI
Senam Teknik Kombinasi merupakan susunan gerak silat Perisai Diri yang dilatihkan kepada pesilat di setiap sesi pelatihan. Sekilas seperti rangkaian jurus di silat pada umumnya, namun Senam Teknik Kombinasi bukanlah rangkaian yang perlu dihafalkan seperti jurus di perguruan silat lain.
Tujuan dari latihan Senam Teknik Kombinasi ini adalah untuk menciptakan kebiasaan dalam melakukan teknik yang benar dan menciptakan refleks yang baik terhadap para pesilat. Latihan ini juga akan membentuk otot-otot para pesilat agar dapat beradaptasi dengan teknik Perisai Diri. Senam Teknik Kombinasi ini selalu berbeda-beda di setiap sesi latihan, baik tangan kosong ataupun menggunakan senjata.
TEKNIK SENJATA
Mulai tingkat Dasar akan diajarkan teknik-teknik beladiri tangan kosong. Pada tingkat selanjutnya diajarkan juga teknik permainan senjata dengan senjata wajib pisau, pedang dan toya. Dengan dasar penguasaan tiga senjata wajib, pisau mewakili senjata pendek, pedang mewakili senjata sedang, dan toya mewakili senjata panjang, pesilat Perisai Diri dilatih untuk mampu mendayagunakan berbagai peralatan yang ada di sekitarnya untuk digunakan sebagai senjata. Teknik tersebut juga dapat digunakan untuk memainkan senjata lain, seperti celurit, trisula, abir, tombak, golok, pedang samurai, pentungan, kipas, teken, payung, roti kalong, senapan, bayonet, dsb.
Tujuan dari pelajaran senjata adalah memberikan pemahaman bagi pesilat tentang berbagai macam senjata. Dengan mengenal karakteristik senjata, maka anggota akan cepat beradaptasi dengan berbagai senjata. Sebagai contoh, dengan mempelajari pisau, maka pesilat akan mengerti kelebihan dan kekurangan dari senjata pendek. Bahkan pesilat akan dapat mengadaptasi benda-benda serupa seperti keris sebagai senjata, atau bahkan pena dan pensil. Dengan memahami karakteristik senjata ini pula, seorang pesilat akan mengerti bagaimana cara menghadapi berbagai macam senjata bila memang keadaan sudah mendesak.
SERANG HINDAR, SERANG HINDAR BALAS DAN BELADIRI
Metode praktis yang sangat penting untuk dipelajari oleh pesilat Perisai Diri adalah latihan Serang Hindar. Pada latihan ini akan diajarkan cara menyerang dan menghindar yang paling efisien, cepat, tepat, tangkas, deras dan bijaksana. Sekalipun berhadapan langsung dengan lawan, kemungkinan cedera amat kecil karena setiap siswa dibekali prinsip-prinsip dasar dalam melakukan serangan dan hindaran. Resiko kecil pada metode Serang Hindar inilah yang melahirkan motto "Pandai Silat Tanpa Cedera". Dengan motto inilah Perisai Diri menyusun program pendidikan dengan memperhatikan faktor psikologis dan kurikulumnya.
Dalam latihan Serang Hindar, dua orang pesilat saling berhadapan satu sama lain. Di dekat mereka ada seorang pelatih yang memperhatikan. Seorang pesilat disebut sebagai A dan seorang lagi disebut dengan B. Pelatih memberi aba-aba "hup !", bersamaan dengan itu A menyerang B dengan satu gerakan, sementara B diam menunggu serangan itu dekat dan kemudian bergerak ke samping untuk melepaskan diri dari serangan A. Pelatih terus memberi aba-aba hingga 10 kali untuk A menyerang B dan B harus menghindar saat serangan A sudah dekat. Setelah selesai, giliran B yang menyerang pada 10 aba-aba kedua.
Itulah salah satu metode latihan berpasangan di silat Perisai Diri yang dikenal dengan sebutan Serang Hindar. Metode Serang Hindar ini telah diformulasikan oleh Pak Dirdjo agar bisa memberi rasa aman bagi kedua pesilat. Selama berlatih, pesilat diminta untuk melakukan serangan dan hindaran yang sesuai dengan pedoman teknik silat Perisai Diri.
Metode berpasangan yang lain di Perisai Diri adalah Serang Hindar Balas. Pada metode Serang Hindar Balas, dalam satu aba-aba, A akan melakukan serangan terhadap B dan B menghindar, kemudian B membalas menyerang A dan A menghindar. Satu set A serang B hindar dan B balas A hindar, adalah implementasi dari metode Serang Hindar Balas. Pada 10 aba-aba pertama, A mendapatkan kesempatan menyerang pertama kali dan B membalas setelah melakukan hindaran sempurna, sementara pada 10 aba-aba kedua akan ditukar oleh pelatih, yaitu B menyerang terlebih dahulu.
Tujuan dari latihan Serang Hindar Balas ini adalah untuk melatih pesilat, terutama bagi si penghindar, untuk menghindar ke arah yang sulit dilihat oleh lawan, tetapi akan sangat mudah untuk melakukan serangan balasan. Inilah yang disebut hindaran yang mengunci posisi lawan. Si penghindar juga harus mempelajari bagaimana ia harus meletakkan langkah mereka agar dapat mempercepat serangan balasan berikutnya.
Metode berpasangan lain yang dilatihkan di Perisai Diri adalah Beladiri. Beladiri adalah dimana saat A menyerang dan B menghindar sambil melepaskan serangan ke A. Dalam hal ini, B disebut melakukan Beladiri. Jadi perbedaannya dengan metode sebelumnya adalah, bahwa B tidak melakukan hindaran sempurna baru membalas, namun B melakukan hindaran dan serangan dalam satu gerakan.
Sebagai ilustrasi yang sederhana, misalnya A melakukan pukulan ke arah depan, ketika pukulan tersebut dekat, maka B bergerak ke samping sambil menusukkan buku tangannya ke arah mata. Dalam hal ini, maka B melakukan Beladiri.
Ketiga metode di atas, Serang Hindar, Serang Hindar Balas dan Beladiri akan diajarkan kepada pesilat Perisai Diri baik dari tingkat Dasar sampai tingkat yang tinggi sekalipun. Metode ini akan diaplikasikan baik menggunakan tangan kosong ataupun menggunakan senjata seperti pisau, pedang dan toya.
TEKNIK ASLI
Teknik silat Perisai Diri mengandung unsur 156 aliran silat dari berbagai daerah di Indonesia yang dipilah dan dikelompokkan sesuai dengan karakter dari masing-masing aliran. Teknik Asli dalam silat Perisai Diri juga digali dari aliran Siauw Liem Sie (Shaolinshi) yang dengan kreativitas Pak Dirdjo gerakan maupun implementasinya sudah dijiwai oleh karakter pencak silat Indonesia. Hal ini yang menjadikan ilmu silat Perisai Diri mempunyai sifat unik, tidak ada kemiripan dengan silat yang lain. Disebut Asli karena mempunyai frame tersendiri, bukan merupakan kombinasi dari beberapa aliran silat.
Teknik Asli dalam silat Perisai Diri di antaranya yaitu :
  1. Burung Meliwis
  2. Burung Kuntul
  3. Burung Garuda
  4. Harimau
  5. Naga
  6. Satria
  7. Pendeta
  8. Putri
Selain teknik tersebut di atas, ada beberapa teknik yang menjadi kekayaan teknik silat Perisai Diri, di antaranya yaitu Kuda Kuningan, Lingsang, Satria Hutan dan Kera, serta beberapa teknik dari beberapa daerah di Indonesia, di antaranya yaitu Minangkabau, Jawa Timuran, Cimande, Bawean dan Betawen.
TEKNIK MINANGKABAU
Gerakan teknik Minangkabau mirip dengan tarian tradisional dari Minangkabau, Sumatera Barat. Salah satu tujuan dari mempelajari teknik ini adalah untuk memperkuat otot-otot paha dan otot belakang. Teknik ini juga memberikan pengalaman tentang bagaimana rasanya bila kita berada pada posisi yang merendah ke tanah.
Untuk menyerang lawan, teknik Minang seringkali mendahului dengan membuka bagian lemah dari badannya dengan gerakan yang lambat. Ini adalah pancingan yang disengaja agar lawan menyerang terlebih dahulu. Ketika lawan datang dengan serangan, saat itulah teknik Minang akan bergerak sangat cepat dan keras menghancurkan serangan lawan tersebut dengan sikunya dan dilanjutkan dengan serangan berikutnya.
TEKNIK BURUNG MELIWIS
Burung Meliwis memiliki ciri khas tersendiri dalam bergerak, yaitu bergerak dengan ringan dan cepat. Tujuan dari mempelajari teknik ini adalah untuk melatih kecepatan, keringanan tubuh dan membiasakan diri menapak dengan ujung kaki. Dengan mempelajari teknik ini, maka pesilat dengan sendirinya akan melatih otot-otot kaki, betis dan pinggul.
Meliwis menggunakan ujung-ujung jari untuk menyerang lawan. Oleh karena itu, ia hanya akan menyerang bagian-bagian yang sangat lemah seperti mata dan leher. Saat menyerang, Meliwis melontarkan tangannya dengan cepat ke arah lawan dan akan kembali dengan kecepatan yang sama, sehingga mempersulit lawan untuk menolak.
Selain ujung-ujung jari, Meliwis juga menggunakan pergelangan tangannya untuk menyerang bagian-bagian seperti leher dan dagu. Teknik ini juga menggunakan pergelangan tangan bagian dalam untuk menolak dengan cara mengalihkan arah serangan lawan.
TEKNIK BURUNG GARUDA
Garuda adalah simbol burung terkuat di antara jenis burung lainnya. Oleh karena itu, dibandingkan dengan teknik burung sebelumnya, Garuda memiliki kemampuan bertarung yang paling tinggi.
Saat berlatih teknik Garuda, pesilat akan dikenalkan bagaimana cara menggunakan perubahan badan sebagai tenaga tambahan saat menyerang atau menolak. Karena kemampuannya dalam menggunakan badan inilah, tenaga yang dimiliki oleh teknik Garuda menjadi lebih besar dibandingkan dengan Meliwis dan Kuntul.
Garuda menggunakan sisi tangan dan sikunya sebagai perlengkapan dalam menyerang dan menolak. Teknik ini selalu mengembangkan kelima jarinya selebar mungkin untuk memperkuat otot tangan bagian samping.
Target serangan Garuda sering ke arah leher. Dengan menggunakan sikunya, Garuda akan menotok bagian leher dan mengiris leher tersebut dengan sisi luar tangan, untuk merusak tulang leher lawan sekaligus merobek kulit lawan. Tidak hanya leher, Garuda juga dapat menyerang ke bagian tengah di antara dua alis mata lawan dan mengirisnya ke sepanjang garis mata.
Dalam jarak yang sangat rapat, Garuda memanfaatkan sikunya ke bagian lemah lawan ataupun memanfaatkan tumitnya untuk melakukan tendangan jarak pendek ke arah kemaluan lawan.
Untuk melindungi diri dari serangan lawan, Garuda memanfaatkan kaki untuk menolak bagian bawah dan tangan untuk bagian tengah dan atas.
TEKNIK PUTRI
Teknik Putri adalah teknik tertinggi di silat Perisai Diri. Karakter dari teknik ini bisa berubah-ubah. Terkadang lembut, namun tiba-tiba berubah menjadi sangat cepat dan keras, kemudian lembut kembali. Putri menggabungkan seluruh kemampuan yang ada pada teknik-teknik sebelumnya, ditambah dengan kemampuan fleksibilitas gerak yang tidak baku seperti teknik lain. Tenaga yang digunakan bersifat kosong isi. Istilah ini berarti bahwa Putri akan selalu kosong tidak bertenaga, namun di dalam kekosongannya, keluar tenaga yang sangat besar saat terjadi sentuhan dengan lawan.
Putri seringkali melakukan dua macam tindakan dalam satu gerakan. Baik itu menyerang sambil menghindar ataupun menyerang sambil menolak. Teknik inipun sering memanfaatkan tenaga lawan untuk menyerang, sehingga tenaga yang ia keluarkan semakin sedikit. Perputaran badan selalu diaplikasikan dalam tekniknya ditambah dengan Pernafasan Tahap 3 yang selalu mengiringi geraknya. Serangannya bersifat gelap, yang artinya sulit untuk dilihat lawan. Putri biasanya hanya bereaksi terhadap serangan lawan. Ia tidak berinisiatif melakukan serangan terlebih dahulu.
KEROKHANIAN
Pesilat yang memiliki keterampilan bertarung setelah mempelajari teknik silat dan teknik olah pernafasan sangat perlu diberikan pendidikan mental spiritual agar menjadi pesilat yang berbudi luhur, yang dalam silat Perisai Diri dikenal dengan istilah pendidikan kerokhanian. Pendidikan kerokhanian diberikan secara bertahap untuk memberi pengertian dan pelajaran tentang diri pribadi dan manusia pada umumnya, sehingga diharapkan tercipta pesilat yang bermental baja dan berbudi luhur, mempunyai kepercayaan diri yang kuat, berperangai lemah lembut, serta bijaksana dalam berpikir dan bertindak. Keseimbangan antara pengetahuan silat dan kerokhanian akan menjadikan anggota Kelatnas Indonesia Perisai Diri waspada dan mawas diri, tidak sombong, dan setiap saat sadar bahwa di atas segala-galanya ada Sang Pencipta.


Silat Perisai Diri atau yang lebih dikenal PD berdiri pada tanggal 2 juli 1955 oleh Raden Mas Soebandiman Dirjtoatmodjo di Surabaya.

Perkembangan Silat Perisai Diri

Sejak awal berdirinya, silat Perisai Diri berfokus untuk mengembangkan organisasinya di seluruh Indonesia, terutama di bidang institusi pendidikan dan instansi pemerintah. Di tingkat remaja, silat Perisai Diri berkembang di sekolah-sekolah tingkat SD, SLTP dan SLTA di Indonesia. Sementara di tingkat lanjutan, silat Perisai Diri menyebar di universitas-universitas negeri dan swasta di seluruh Indonesia.
Hasil yang didapat dari pengembangan ini ternyata membawa dampak yang positif. Berawal dari pengembangan di universitas seluruh Indonesia, kini Perisai Diri telah tersebar di penjuru dunia. Hal ini dikarenakan para pelatih

Perisai Diri yang bertugas di luar negeri dalam waktu yang lama, sehingga membuka tempat latihan di negara tempat mereka bertugas. Hingga saat ini, Perisai Diri telah tersebar di Australia, Jerman, United Kingdom, Amerika, Belanda, Jepang, Switzerland dan Belgia.
‘Belajar Silat Tanpa Cedera’ adalah moto Perisai Diri, sejak didirikan tahun 1955. Metode yang diajarkan di desain untuk menghindari cedera di saat latihan.

PANGLIPUR

PANGLIPUR

I.    ABAH ALEH

Sebagaimana dimaklumi, bahwa Garut merupakan daerah pesantren namun juga memiliki banyak tokoh beladiri dari berbagai aliran khususnya Jawa Barat. Dengan hal ini kiranya Himpunan Pencak Silat (HPS) Panglipur—suatu perguruan yang telah berdiri sejak tahun 1909 dengan Abah Aleh sebagai pendirinya, dan saat ini dilanjutkan oleh putri beliau, Hj. Enni Rukmini Sekarningrat—mulai dari tahun 1986 mulai membuka diri sebagai suatu perguruan yang mengembangkan serta mempromosikan keilmuannya hingga ke mancanegara dan berusaha mengkreasikan suatu bentuk seni beladiri yang tetap menjaga tradisi dan asalinya, namun juga tidak menutup diri terhadap pemahaman ke depan. Bidang garapannya tidak hanya dalam segi fisik saja melalui pelatihan dan diskusi/seminar beladiri namun juga pada bidang pendokumentasian secara tulisan dan audiovisual, serta penelusuran kesejarahan serta falsafah kesundaannya sebagai jati diri dan referensinya.
Pencak Silat Panglipur didirikan oleh Abah Aleh pada tahun 1909 di Gg. Durman dekat Pasar Baru Bandung, Beliau adalah keturunan Banten yang lahir di Garut pada tahun 1856 dan wafat di Garut tahun 1980.
Pemberian nama Panglipur diberikan oleh Bupati Bandung yang bernama  Wiranatakusumah. Alkisah manakala disaat menderita sakit Bupati Wiranatakusumah ingin dihibur oleh kesenian silat yang dipimpin oleh Abah Aleh dan tembang Cianjuran yang dipimpin Bapak Hamim.  Konon kisah tersebut berlanjut dan Beliau sembuh dari sakitnya, sehingga Beliau berkenan menganugrahkan penghargaan dengan memberikan nama kepada pencak silat Abah Aleh yaitu Panglipur Galih (Pelipur Hati) dan kepada grup tembang Cianjuran Bapak Hamim diberikan nama Panglipur (Penghibur). Namun setelah kedua tokoh tersebut berembug maka mereka setuju untuk tukar nama, sehingga Pencak Silat Abah Aleh diberi nama “Panglipur”
Abah Aleh sangat piawai dan mumpuni dalam ilmu silatnya, sehingga Beliau mampu memadukan gaya berbagai aliran yang di dapatnya dari berbagai tokoh silat terkemuka yang merupakan guru dari Beliau. Para Beliau diantaranya Raden Agus yang mengajarkan aliran Cimande Kampung Baru, Haji Bajuri yang mengajarkan Tepak Dua Cimande dan Sipecut, Gan UU mengajarkan rangkaian Jalan Cikalong, Rd. Enggah Ahmad mengajarkan rangkaian gerak Jalan Muka, Rd. Kosasih mengajarkan Ulin Sabandar, Jurus Si Pitung dan lima rangkaian Jurus Alip Bandul, Rd. Husen Nataningrat mengajarkan permainan Bojong Herang, serta banyak lagi tokoh silat lainnya yang membimbing Beliau dalam menuntut ilmu silat.
Pada tahun 1945 Abah Aleh pindah ke  Garut, tepatnya Kp. Sumursari Desa Sukasono Kec. Sukawening Kab. Garut.  Dan pada tahun 1974  Abah Aleh menunjuk kepada putri keempatnya Rd. Enny Rukmini Sekarningrat sebagai Pimpinan penerus HPS Panglipur, serta kepada murid seniornya untuk meneruskan perjuangannya dalam mengurus dan mengembangkan Himpunan Pencak Silat Panglipur.

II.    Hj. R. ENNY RUKMINI SEKARNINGRAT
Menjadi seorang guru dan pemimpin pencak silat dapat dikatakan cukup berat, di samping harus menguasai jurus-jurus dan teknik-teknik seni beladiri pencak silat yang mantap, fisik yang prima, serta mental yang kuat tentunya juga dituntut harus memahami falsafah seni beladiri pencak silat secara mendalam, seperti yang pernah dialami Rd. Enny Rukmini Sekarningrat, pakar pencak silat dan pejuang wanita empat zaman, puteri Abah Aleh (1856-1980) pendiri Panglipur. Abah Aleh adalah seorang maestro seni beladiri pencak silat yang mampu menggabungkan aliran-aliran pencak silat menjadi jurus Panglipur yang indah, luwes, efektif, dan praktis untuk membela diri. Ketika "Duel" menemui Rd. Enny Rukmini Sekarningrat, sepertinya ia tak nampak ekspresi seorang tua, pada umumnya. Ia masih lantang berbicara, ringan bergerak, jalan dan melompat. Saat dilakukan pemotretan, ia masih bisa dengan mudah memperagakan sembilan jurus pokok Panglipur, lengkap dengan aplikasinya, ternyata tenaganya masih kuat mendorong dan melemparkan lawannya dengan cepat, kuat dan bertenaga, seperti mengadung ilmu tenaga dalam.


Nama Rd. Enny Rukmini Sekarningrat cukup terkenal dikalangan masyarakat luas terutama bagi mereka yang mencintai seni beladiri pencak silat. Bahkan namanyapun telah tercatat di PB IPSI sebagai Dewan Pakar Pencak Silat Nasional, sehingga tidaklah mengherankan apabila namanya sudah terkenal sampai ke tingkat Internasional. Memang kalau kita belum mengenalnya sekilas terlihat galak apalagi didukung oleh sorot matanya yang tajam, membuat orang yang melihatnya menjadi segan. Namun semua itu tidak benar, buktinya bila kita sudah terlibat perbincangan dengannya ternyata ia seorang yang ramah, baik, sopan, dan rendah hati.

Panggilannya pendek saja, boleh dipanggil "Ibu" atau "Ibu Enny", tapi umumnya para pesilat di lingkungan Himpunan Pencak Silat Panglipur memanggilnya "mamih". Maklum sebutan terakhir ini merupakan kebiasaan pesilat Panglipur yang sudah dekat dengannya. Pernah ada yang menanyakan, "Apakah betul Ibu ada keturunan Belanda? Saya jawab, tidak, dan memang sebenarnya saya bukan keturunan orang Belanda," tuturnya. Bahkan pertanyaannya tidak cukup sampai di situ saja, kadang-kadang mereka suka meneruskan dengan pertanyaan lain, "Ah masa, buktinya raut muka Ibu mirip Indo? Mendengar pertanyaan seperti itu saya hanya tersenyum, mungkin karena saya cukup lama bersama-sama dengan orang Belanda, ketika masih sekolah di Zending School. Tidak heran apabila saya terpengaruh oleh kebiasaan orang Belanda, dan kebetulan kulit saya putih, sehingga orang menyangka bahwa saya mirip orang bule. Padahal saya tidak ada keturunan Indo, ayah saya Abah Aleh keturunan Banten dan Ibu saya Ma Uki asli orang Garut."

Masa Perjuangan
   Sejak kecil ia sudah menyenangi kesenian daerah dan bahkan pernah belajar tari sunda, termasuk belajar pencak silat hanya tidak sungguh-sungguh dan tidak mendalaminya, cukup asal bisa saja. Setelah menginjak remaja malah senang belajar dansa yaitu sejenis tarian yang suka diperagakan oleh remaja-remaja dari Barat (orang asing). Walaupun demikian, ayahnya tidak melarang mempelajari dansa, apalagi sampai mempunyai murid mahasiswa, karena kebetulan waktu itu banyak mahasiswa-mahasiswa yang mengontrak (indekos) di rumah, sehingga kesenangan pada dansa semakin kuat.

Puteri pasangan Abah Aleh (pendiri Panglipur) dan Ma Uki, yang dilahirkan di Gg. Durman Bandung pada tanggal 17 Agustus 1915 ini, dalam usia 12 tahun sudah menikah. Mungkin Abah Aleh merasa khawatir mengingat situasi waktu itu kurang aman. Pertama dia menikah dengan seorang pemuda bernama Nandung, punya anak satu bernama Etty Sumartini dan mempunyai cucu 12 (dua belas), tinggal di Jakarta. Abah Aleh mengharapkan ia menjadi seorang istri yang mandiri, sehingga Abah Aleh mengijinkannya untuk melanjutkan sekolah. Setelah tamat dari Zending School diteruskan ke Darul Mualim 6 tahun, sekitar tahun 1946 keluar dari sana sempat menjadi Guru Agama di bawah pimpinan Ajengan Toha dan Rachmat Sulaeman, mengajar di Madrasah Al Balah dan di Madrasatul Choeriah di Gg Affandi Braga Bandung. Tidak lama setelah itu suami tercinta meninggal dunia. Lalu menikah dengan Lurah Cimahi, tidak lama meninggal dunia juga. Kemudian menikah lagi dengan seorang pejuang kemerdekaan bernama Bunjali, kebetulan ia seorang tokoh silat sehingga Abah Aleh sangat senang kepadanya, mungkin karena nasib, tidak lama setelah itu Bunjali ditangkap oleh Belanda ketika sedang pengajian (mengajar membaca Al Qur’an). Ibu Enny sempat mencari sang suami mudah-mudahan bisa bertemu lagi, lalu ikut menggabungkan diri sebagai wanita pejuang dengan pasukan pangeran papak di Wanaraja Garut, di bawah pimpinan Mayor Kosasih. Nama Sekarningrat juga diberi oleh Laskar Pangeran Papak. Berkat kesabaran dan ketabahan hati, akhirnya ia bertemu juga dengan suami tercinta, sehingga waktu itu bisa bersama-sama berjuang mempertahankan kemerdekaan. Tidak lama setelah itu masing-masing mendapat tugas, ia ditugaskan ke Ciniru dan suaminya ditugaskan ke Cipakem Kuningan "Ternyata setelah kembali dari tugas, suami saya meninggal dunia saat berjuang. Hati saya begitu sedih, mungkin sudah nasib dan saya menyadari bahwa ini merupakan takdir Allah SWT," tuturnya.

Pada tahun 1947, ibu Enny bergabung dengan pasukan yang dipimpin oleh Letkol Abimanyu dan Mayor U. Rukman sampai hijrah ke Yogya dan di sana bertemu dengan seorang perwira TNI bernama Tabrani, ketika itu ia masih berpangkat kapten, lalu kembali ke Jawa Barat dan berhenti sebagai pejuang, dan akhirnya kembali ke masyarakat. Tahun 1950, pengembaraan di hutan belantara berakhir dengan turunnya para pengungsi ke kota Bandung, yang sebelumnya berjuang memakai senjata, namun sekarang perjuangan itu dilakukan dalam bentuk lain. Kemudian saya menikah dengan Kapten Tabrani dan mempunyai anak laki-laki bernama Djadja Widjayakusumah. Waktu itu pimpinan Panglipur oleh Abah Aleh dipercayakan kepada kakak ibu Enny, Letnan AURI Udi. Lalu untuk mengenang masa perjuangan, ia mencoba membuat drama pencak silat yang menceritakan perjuangannya dengan suami dari mulai awal pertemuan sampai selesai. Penulisan naskah, skenario, dan sutradara diatur oleh ibu Enny. "Waktu sedang latihan, saya berusaha untuk tegar dan kuat tetapi ternyata dalam pelaksanaannya saya tidak kuasa menahan rasa sedih dan merasa tidak kuat sampai saya jatuh pingsan," tuturnya.

Kira-kira tahun lima puluhan, Letnan AURI Udi yang dipercaya oleh Abah Aleh untuk mengurus perguruan pencak silat Panglipur, meninggal dunia. Kemudian Abah Aleh memanggilnya dan berkata, "Eneng, sabada Kang Udi pupus, taya deui nu katoong ku Abah pikeun neruskeun jadi sesepuh paguron teh iwal ti Eneng," saurna lemah lembut. ("Neng, setelah Kak Udi meninggal dunia, tidak ada lagi yang terlihat oleh Abah yang mampu meneruskan menjadi pemimpin perguruan pencak silat panglipur, hanya Enny," katanya serius). "Ketika mendengar ucapan seperti itu, hati saya merasa kaget bercampur bingung," tuturnya, "karena saya merasa belum mendalami sungguh-sungguh tentang masalah pencak silat, dan putra-putri Abah Aleh itu ada empat orang termasuk saya, Kak Udi, Kak Eyon, dan Kak Dati. Saya tidak mengerti mengapa Abah Aleh memilih saya untuk menggantikannya. Setelah berpikir panjang timbul perasaan dalam hati saya, mungkin Abah Aleh merasa yakin bahwa saya mempunyai kemampuan untuk menjalankannya,

sehingga saya tidak bisa menolaknya," tuturnya tegas. Ternyata ibu berparas cantik ini dulunya tergolong anak yang taat dan patuh kepada orang tua, rasa hormat kepada kedua orang tua sudah tertanam sejak ia masih kecil, jangankan menolak keinginan orang tua, dimarahi dengan tidak merasa bersalahpun saya tidak berani membantahnya apalagi sampai melawan pada orang tua. Akhirnya tawaran itu dia terima dengan lapang dada.

Memimpin Panglipur
Pada tahun 1950, Abah Aleh secara resmi menyerahkan tapuk pimpinan Panglipur kepada Ibu Enny, sebagai pewaris yang diangggap mampu memimpin Panglipur, demi perkembangan dan kemajuan Panglipur di masa yang akan datang. Walaupun anggapannya masih mentah dalam masalah persilatan, namun Ibu Enny berusaha sekuat tenaga untuk memimpin panglipur bersama-sama dengan para tokoh Panglipur yang lain.

"Ketika memperhatikan Abah Aleh sedang melatih pencak silat, saya suka bertanya, kenapa jurus-jurus Panglipur suka diberi nomor, dan semuanya tidak dibeda-bedakan, alangkah baiknya setiap tingkatan dibeda-bedakan," katanya memberi pertanyaan pada Abah Aleh.

"Untuk ciri khas Panglipur, supaya ada keseragaman," katanya sambil tersenyum. "Buktinya terasa oleh saya, ketika melatih 1600 pesilat untuk menyambut Konperensi Asia Afrika tahun 1955. Dengan gerakan yang sudah diseragamkan sehingga tidak sulit untuk melatihnya," tuturnya. Ibu Enny merasa kagum kepada Abah Aleh yang bisa menyeragamkan gerakan yang begitu rumit dan bermacam-macam.

Ada yang bertanya, "Apakah silat dari Abah Aleh dibarengi dengan ilmu tenaga dalam? Saya menjawab tidak, karena memang saya tidak belajar ilmu tenaga dalam, paling juga saya suka tirakat. Saya pernah mengalami dikurung di dalam kamar oleh Abah Aleh selama tiga hari tiga malam, selama di dalam kamar itu hanya disediakan sepiring kentang rebus dan segelas air putih. Oleh karena itu, tidak heran apabila saya makan hanya dua hari sekali atau tiga hari sekali."

"Pernah ada kejadian aneh waktu saya berumur 40 tahun tiba-tiba gigi saya merasa linu dan seolah-olah terasa menjadi panjang, kemudian diperiksa ke dokter katanya tidak ada penyakit. Malam jum’at ternyata gigi saya rontok semua sehingga sampai sekarang gigi saya menjadi ompong. Saya tidak mempunyai pikiran yang bukan-bukan, atau mempunyai sangkaan negatip terhadap orang lain, mungkin gigi saya rontok itu disebabkan oleh penyakit," katanya.

Sejak berdirinya PPSI di Jawa Barat pada tahun 1957, di bawah pimpinan Pangdam Siliwangi, Jendral Kosasih, Ibu Enny berusaha sekuat tenaga mengembangkan seni beladiri pencak silat. Namun dalam pelaksanaannya tidak semudah apa yang kita bayangkan, sebab waktu itu bantuan dari pemerintah maupun dari masyarakat belum bisa diandalkan. Apalagi yang namanya pencak silat, setiap orang banyak yang ingin memiliki kepandaian ini, tapi sedikit sekali yang mau mengeluarkan uang atau dana untuk itu. Walaupun demikian, Rd. Enny Rukmini Sekarningrat dan kawan-kawan seperguruan seperti Rd. H. Adang Mohammad Moesa (alm), Harun (alm), Tarmedi (alm), Kol. H. MSTA. Jhonny (alm), M. Umbit (alm), Bakri, Udi, dan yang lainnya berjuang untuk melestarikan seni beladiri pencak silat, khususnya Panglipur sebagai warisan Abah Aleh yang sebelumnya telah berjuang tanpa pamrih. Dan terbukti Panglipur telah diakui oleh pemerintah sebagai organisasi yang terdaftar sebagai anggota PPSI maupun IPSI.

Di kota Bandung saja waktu itu sudah ada lima cabang panglipur, antara lain cabang Bandung Barat diketuai oleh H. Basuni (alm), Pagarsih diketuai oleh Abah Bakri (alm), Ciwidey diketuai oleh Lurah Prawira (alm), Babakan Jati diketuai oleh H. Basuki (alm), Lembang diketuai oleh Aki Tarmedi (alm), dan Buah Batu diketuai oleh Bah Soma (alm), Kopo diketuai oleh Bah Omi, Oyi, dan Bah Udi, serta banyak lagi tokoh-tokoh yang lainnya. Cabang-cabang Panglipur di luar Bandung, antara lain Majalengka, Talaga, Kuningan, Garut, Cianjur. Semua cabang-cabang tersebut harus berada dalam pengawasan Panglipur Pusat yang dipimpin olehnya. Sampai detik ini Panglipur terus berkembang dengan pesat, baik di dalam maupun di luar negeri.

Di samping sebagai seorang pimpinan Panglipur, ternyata Rd. Enny Rukmini Sekarningrat, temasuk juga sebagai seorang guru silat atau pelatih yang aktif, ia pernah melatih anggota tentara Rindam VI Siliwangi, Kompi Protokol Pimpinan Kapten. H. MSTA. Jhonny (alm, terakhir berpangkat Kolonel), melatih anggota tentara BDI II Siliwangi Pangalengan pimpinan Letkol. Suryamin, melatih pemuda-pemuda putus sekolah, pernah melatih di SMP, SMA, SPG dan Mahasiswa, serta siswa-siswa Dodiklat Polri dan anak-anak CPM di Cimahi, melatih orang-orang asing yang sengaja datang untuk berguru di Panglipur. Bahkan pernah mendirikan organisasi tukang becak yang diberi nama Himpunan Pengendara Becak Indonesia (HPBI), kemudian tukang Becak tersebut dikursuskan setir mobil sampai mereka, menjadi sopir Bemo di Cicendo Bandung.

Disela-sela latihan ia sering diberi wejangan oleh Abah Aleh, berupa amanat yang diberikan kepadanya antara lain, "Eneng, boh dina hirup, boh dina penca, teangan pikaresepeun batur, ulah neangan pikangewaeun batur," saurna. ("Neng, dalam kehidupan sehari-hari, maupun dalam penca, harus selalu mencari yang membuat orang senang (menyenangkan orang lain) bukan sebaliknya mencari sesuatu yang membuat orang tidak suka atau tidak disukai oleh orang lain," katanya). Sesuai dengan falsafah Panglipur yang merupakan singkatan dari:

1. Pek Aranjeun Neangan Guru Luhung Ilmuna, Poma Ulah Ria (Takabur).
Artinya dalam bahasa Indonesia : Silakan kalian mencari guru yang tinggi ilmunya, tetapi jangan sombong (takabur).

2. Pek Aranjeun Neangan Guru Luhung Ilmuna Pikeun Udageun Rasa.
Artinya dalam bahasa Indonesia : Silakan kalian mencari guru yang tinggi ilmunya untuk kejaran rasa.

Memimpin Tim Galih Pakuan Jawa Barat
Ada pengalaman yang menarik selama ibu Enny memimpin Panglipur, ketika membawa rombongan Panglipur ke Singapura pada tahun 1980, dengan H. Suhari Sapari (Ketua IPSI/PPSI) Jawa Barat. "Ketika mengadakan pementasan di Singapura, setelah sampai di lokasi baru teringat bahwa alat yang akan dipakai untuk peragaan tertinggal di penginapan, padahal waktu untuk pementasan tinggal beberapa menit lagi. Saat itu tiba-tiba saya teringat pada sobrah (sejenis rambut wanita yang panjang, digunakan untuk sanggul) yang dapat mengganti alat yang tertinggal tadi. Ternyata pementasan tersebut mampu memukau penonton dan mereka merasa puas, orang menyangka bahwa sobrah itu merupakan kreasi baru," katanya sambil tersenyum. Selanjutnya ia mengingatkan, "Oleh karena itu, peralatan atau senjata yang dipakai untuk pencak silat itu bukan hanya Golok, Gobang (Pedang), Trisula, Toya, Alu (halu), Tongkat, Limbuhan (sejenis senjata pendek) yang bisa dipakai dalam peragaan, sobrah pun bisa dipakai untuk demo. Jadi harus kreatif apabila kebetulan alat-alat tersebut ketinggalan atau hilang. Bahkan benang rafiapun bisa dipakai sebagai alat membela diri," tuturnya menambahkan.

Selanjutnya ia menyinggung tentang masalah kostum pencak silat, yang tidak lepas dari perhatiannya. "Pesilat umumnya mempergunakan pakaian warna hitam, tetapi untuk keperluan pentas tidak selalu harus hitam, warna lain pun bisa dipakai, disesuaikan dengan ibing yang akan ditampilkan, supaya anak-anak kelihatan cantik, indah, dan tidak memalukan. Kostum ini saya pakai ketika Panglipur ditunjuk sebagai anggota Galih Pakuan Jawa Barat oleh Gubernur H. Aang Kunaefi (alm) dari tahun 1978 sampai tahun 1985, antara lain ketika menyambut Konperensi Asia Afrika (1985), Parasamya Purna Karya Nugraha, dan sebagainya. Selama menjadi Tim Protokoler Jawa Barat (Galih Pakuan Jawa Barat), Panglipur telah puluhan kali mentas di Istana Bogor, bersama-sama dengan kesenian lain seperti Tari, Dogdog Lojor, Sisingaan, Buncis, Jaipongan, dan lain-lain di bawah pimpinan Enoh Atmadibrata, Nugraha, Indrawati Lukman, Yeti Mamat, Irawati Durban, Gugum Gumbira, Tati Saleh, dan seniman sunda yang lainnya," tutur tokoh yang pandai merias pengantin ini, "Bahkan saya pernah mencoba menampilkan ibing pencak silat dengan pakaian kebaya ternyata berhasil dan dapat diterima oleh masyarakat pencak silat sebagai pementasan yang baik dan indah, tanpa mengurangai nilai-nilai dan kaidah seni beladiri pencak silat yang sebenarnya. Maksudnya yaitu dalam keadaan apapun, seorang pesilat tidak harus selalu memakai seragam silat, khususnya bagi seorang perempuan memakai pakaian kebayapun bisa membela diri dan menampilkan gerakan silat dengan baik," tandasnya.

Ibu yang satu ini ternyata tergolong ketat dalam menerapkan disiplin di Panglipur, misalnya antara anak laki-laki dan anak perempuan di perguruan harus seperti kakak dan adik, saling melindungi, saling menyayangi, dan saling membantu apabila masing-masing mempunyai kesulitan. "Saya tidak memberikan ijin ada hubungan lebih dari saudara seperguruan, apalagi sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Saya memperbolehkan murid perempuan menikah dengan dengan murid laki-laki seperguruan asal benar-benar bisa membangun rumah tangga dengan baik dan benar-benar sesuai dengan ajaran Agama Islam. Alhamdulillah, peraturan ini sampai sekarang belum ada yang melanggarnya, apalagi sampai menimbulkan retaknya hubungan kekeluargaan di Panglipur," tuturnya serius.

Tahun 1997, Rd. Enny Rukmini Sekarningrat dan Rd. H. Adang Mohammad Moesa ditunjuk oleh PB IPSI berangkat ke Malaysia sebagai tokoh dan pakar pencak silat Jawa Barat, selanjutnya berangkat lagi dengan E. Kusnadi ke Trengganu, Malaysia sebagai peninjau pada Kejuaraan Pencak Silat Nusantara.

Sebagai tokoh dan pakar pencak silat, sikap pergaulannya yang luwes ternyata mampu membawa Panglipur menembus pergaulan pencak silat secara Internasional sehingga dikenal di kalangan pakar-pakar pencak silat mancanegara. Selain itu, ia telah berhasil membawa Panglipur sebagai perguruan pencak silat yang mampu mempertahankan keasliannya.

Selama 91 tahun (1909-2001) Panglipur telah dipelajari oleh pecinta pencak silat dari dalam maupun luar negeri, seperti Asia, Eropa, dan Amerika. Dari waktu ke waktu Panglipur tetap eksis, prestasi dan dedikasi Panglipur tak pernah absen dalam mengikuti pagelaran-pagelaran atau kejuaraan-kejuaraan yang resmi yang diselenggarakan oleh Pengda IPSI maupun PB IPSI, baik di tingkat Nasional maupun Internasional/Dunia. Terakhir, ia mendapat undangan dari PB IPSI sebagai pakar pencak silat dalam Kejuaraan Dunia Pencak Silat X dari tanggal 14 sampai 20 Nopember 2000, di Jakarta. Panglipur Cabang Belanda tampil sebagai wakil dari Panglipur Indonesia.

"Alhamdulillah selama saya memimpin perguruan pencak silat Panglipur, rasanya murid-murid Panglipur belum pernah ada yang mengecewakan, bahkan cabang-cabang Panglipur terus bertambah dan berkembang sampai ke mancanegara, antara lain Belanda, Amerika, Austria, dan lain sebagainya," tuturnya bangga.

III. KEGIATAN DAN PRESTASI
Himpunan Pencak Silat Panglipur melalui pelatih dan anggotanya mulai tahun 1909 telah eksis dan mengabdikan diri untuk pelestarian dan pengembangan beladiri tradisional khususnya Pencak Silat. Pada saat ini HPS Panglipur memiliki sekretariat pusat di Bandung namun Padepokan Pusat-nya berada di daerah Garut. Cabang dan anggota Panglipur tersebar di berbagai kota di Jawa Barat juga di daerah Tangerang dan DKI Jakarta. Sedangkan cabang di luar negeri yang masih terus aktif hingga kini tersebar di berbagai kota di Belanda, Austria, dan Perancis. Melalui berbagai kegiatan dan aktifitasnya, prestasi anggota Panglipur meliputi:
1.    Pengisi acara kenegaraan di istana gubernur pada masa Gubernur Bapak Aang Kunaefi;
2.    Team atraksi lengkap keliling beberapa kota di Belanda selama sebulan pada tahun 1986;
3.    Team atraksi dan promosi ke Amerika Serikat;
4.    Perwakilan Indonesia untuk Festival Beladiri se Asia Tenggara di Singapore, pada tahun 1990;
5.    Dua Anggota Panglipur berhasil ikut team untuk mengikuti kejuaraan dunia di Hatjai Thailand pada tahun 1994 dan berhasil mendapatkan medali emas;
6.    Anggota cabang Panglipur Belanda berhasil mengikuti kejuaraan dunia Pecak Silat di Malaysia pada tahun 1997 dan berhasil memperoleh medali perak;
7.    Pelatih dan anggota Panglipur dipercaya oleh PERSILAT untuk menjadi duta negara sebagai team promosi pencak silat ke Korea, Perancis, Inggris, Belanda, Austria, Belgia, Yaman, dan Rusia mulai tahun 2003 hingga 2008.

PERGURUAN IKS.PI KERA SAKTI


PERGURUAN IKS.PI KERA SAKTI


Perguruan IKS.PI KERA SAKTI ini adalah sebuah Perguruan yang mengajarkan  KUNG – FU atau KUNTAUW ( Istilah Bhs. Hokkian yang populer di Indonesia ), yaitu seni bela diri tradisional rakyat China dari DARATAN TIONGKOK, dan mengajarkan JURUS KERA ALIRAN SELATAN & UTARA atau dalam istilah Chinanya disebut NAN PIE HO JIEN ( Bhs. Nasional ) atau LAM PAK KAUW KUN ( Bhs. Hokkian ).

Pertama kalinya  Perguruan ini didirikan di MADIUN, pada tanggal 15 Januari 1980 dengan Izin P & K Madiun Nomor : 183/II04.3/L.4/80/SK. Adapun PENDIRI  Perguruan IKS.PI KERA SAKTI ini yaitu R. TOTONG KIEMDARTO, Putra dari Bp. RM. SENTARDI dan Ny. OEY KIEM LIAN NIO.

Aslinya Perguruan ini hanya bernama IKATAN KELUARGA SILAT ( Disingkat IKS )  ” PUTRA INDONESIA ”, yang maksudnya IKS = Berpengharapan supaya siswa dan siswinya yang latihan di perguruan menjadi suatu keluarga melalui seni beladiri dalam arti persaudaraan.

Adapun PUTRA INDONESIA maksudnya adalah meskipun Kung-Fu dari Perguruan ini merupakan kebudayaan asing / barang import akan tetapi organisasi yang menjadi wadahnya didirikan di Indonesia.

Sekitar Tahun 1983, perguruan ini diberi TAMBAHAN NAMA BARU dibelakang IKS.PI yaitu KERA SAKTI, maksudnya = karena perguruan ini mengajarkan Jurus/ Kung-Fu Kera. Tetapi sebenarnya masalahnya adalah karena murid – murid dari perguruan ini lebih dikenal dimasyarakat luar bukan sebagai murid perguruan IKS,PI tetapi murid dari perguruan kera. Bahkan banyak yang salah menafsirkan dengan menyebut murid – murid IKS.PI dalam pengertian yang lain. Jadi penambahan nama itu hanya berfungsi untuk MEMUDAHKAN PENGENALAN dan TERDENGAR LEBIH MENGENA, sesuai dengan bentuk dari perguruannya sendiri.

Nama Kera Sakti itu sendiri diambil dari Nama SUN GO KONG / KAUW CE THIAN ( Artinya KERA SAKTI ), yaitu Raja Kera dari Gunung HWA KO SAN didalam Legenda Tiongkok Kuno yang terkenal cerdik, perkasa dan pernah mengacau Kahyangan / Langit   ( Cerita tentang SEE YU / SUN GO KONG ini pernah disalin dalam cerita serial Bahasa Jawa  di Majalah Jayabaya yang berjudul SANG PRAJAKA/ SERAT PANGRUWATING BAPA KISTA ).

Diatas sudah dikatakan bahwa perguruan ini dari aliran NAN PIE HO JIEN artinya NAN = Selatan,  PEI = Utara, HO = Kera, JIEN = Jurus / Kung – Fu. Maksudnya adalah Perguruan ini mengajarkan Kung-Fu dari Jenis Jurus Kera yang mengkombinasikan Tinju Selatan dan Tendangan Utara sebagai kiblat gayanya.

Menyinggung soal jenis gerakan Jurus pada Kung fu itu sendiri, terdiri dari bermacam – macam jenis : Kung-Fu Kera, Bangau, Harimau, Thay Kek Kun dsb, demikian juga tentang perguruan – perguruan yang mengajarkan jurus – jurus tersebut diatas, banyak sekali macamnya di Tiongkok seperti Perguruan Shaolin Pay, Bu Tong Pay, Kun Lun Pay, dsb, mengenai Jurus Kera itu sendiri , meskipun terdapat gerakan – gerakan yang aneh dan lucu ( pada pelajaran tk. Menengah dan lanjutan ) tetapi sesungguhnya mengandung serangan yang membahayakan, penuh tipu muslihat, curang dan kejam sesuai dengan sifat binatang kera itu sendiri, sehingga mampu bertanding dalam segala posisi ( Main bawah, main atas , bantingan dsb ). Untuk itu bagi para siswa yang ingin mempelajari sampai sempurna harus mempunyai PHISIK YANG KUAT, GESIT DAN LENTUR, karena Kung-Fu yang asli sesungguhnya mempunyai hubungan erat dengan AKROBAT.

Sedangkan TINJU SELATAN itu maksudnya adalah Gaya Silat dari Daerah PROPINSI HOKKIAN yang mengutamakan permainan tangan, bantingan , main bawah. Hal ini terjadi karena pada umumnya penduduk didaerah Hokkian hidupnya didataran rendah dan bekerja sebagai petani atau nelayan, yang lebih mengutamakan fungsi tangan daripada kakinya, biasanya Jago – jago Kung-Fu dari daerah ini mempunyai TANGAN YANG KERAS dan KUDA – KUDA KAKI YANG KOKOH.

Kalau TENDANGAN UTARA itu maksudnya adalah gaya silat dari daerah Propinsi Shantung, yang mengutamakan tendangan tinggi dan meloncat. Hal ini menjadi kebalikan dari daerah Selatan, sebab penduduk di Shantung hidup didataran tinggi / pegunungan sehingga kaki memegang peranan penting. Jago – jago silat dari daerah tersebut pada umumnya memiliki TENDANGAN YANG TINGGI, LINCAH DAN KAKINYA LEMAS / LENTUR SEPERTI KARET, yang bisa diputar atau ditekuk untuk mendesak lawan dengan tendangan.

Berhubung kedua macam Gaya Silat ini menjadi Kiblat hampir semua perguruan kungfu di Tiongkok , dan masing – masing mempunyai keistimewaan sendiri – sendiri, maka Perguruan IKS.PI KERA SAKTI berusaha menggabungkan kedua gaya itu dalam jurus – jurusnya, contoh : dalam Jurus Kera perguruan ini ada Tendangan Melingkar Diudara      ( THIAN SAO ), tetapi ada juga Tendangan Melingkar Dibawah  ( SIANG HO SAO ), yang pertama merupakan ciri gaya Shantung dan yang kedua adalah gaya dari Hokkian.

Sesungguhnya belajar Kung – Fu ( KUN ) itu tidak gampang masalahnya :
1. Sifatnya tertutup ( Jarang disebarkan untuk umum )
2. Menjadi Monopoli Bangsa China yang hanya diajarkan untuk keluarga, famili atau teman dekat .
3. Jumlah Murid yang dibatasi.
4. Murid yang baru berlatih langsung diberi latihan – latihan yang berat sehingga jarang ada yang melanjutkan.
5. Banyak yang dibawa pemiliknya keliang kubur, tanpa meninggalkan ahli waris dan catatan untuk generasi yang akan         datang.

Untuk itu dengan cita-cita agar Kung-Fu TIDAK PUNAH, maka R. TOTONG KIEMDARTO memberanikan diri untuk mengenalkannya kepada masyarakat dengan bekal yang pernah didapatnya dari SUHU_SUHU KUNTAUW yang pernah membimbingnya tentang Kung-Fu.

Hanya saja karena zaman sudah berbeda, maka pelajaran Kung-Fu yang diajarkan kepada masyarakat diadakan PERUBAHAN atau PENAMBAHAN YANG DISESUAIKAN DENGAN PERKEMBANGAN ZAMAN dan SELERA MASSA walaupun TEKNIK-TEKNIK KUNG-FU BAGIAN INTI YANG ASLI TIDAK DITINGGALKAN.

Demikian juga sebagai salah satu Perguruan Kung-Fu yang sudah modern, maka Perguruan IKS.PI Kera Sakti mengadakan pula TINGKATAN DALAM PELAJARAN, mengingat BAKAT dan KECERDASAN YANG BERBEDA-BEDA DARI TIAP SISEANYA, yaitu TINGKAT DASAR I, TINGKAT DASAR II, TINGKAT WARGA, TINGKAT PENDEKAR DAN TINGKAT DEWAN GURU atau istilah lain TINGKAT DASAR, MENENGAH dan LANJUTAN yang masing-masing ditandai dengan SABUK HITAM, KUNING, BIRU, MERAH  dan MERAH STRIP KUNING EMAS.

Karena ada Tingkatan, maka tentu saja ada UJIAN KENAIKAN TINGKAT BAIK PHYSIK maupun MENTAL, yang bertujuan MENGEVALUASI DAN MENGETAHUI SAMPAI DIMANA SEORANG SISWA ITU MENDALAMI ILMU YANG DITERIMANYA, dan setiap Akhir Ujian selalu ditutup dengan UPACARA PENGESAHAN. Apabila dinyatakan lulus dan telah disyahkan sebagai WARGA IKS.PI KERA SAKTI, maka Siswa tersebut berhak memakai SERAGAM KEBESARAN (SAKRAL) IKS.PI KERA SAKTI, dan boleh mendirikan Cabang atau Ranting – ranting tempat latihan dimana saja dibawah naungan PUSAT PERGURUAN, atau istilahnya siswa tersebut sudah boleh TURUN GUNUNG.